Hukum Meruqyah dengan Air Zam-zam

Tidaklah kita ragukan lagi sebagai seorang muslim bahwa air zamzam mengandung keberkahan. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم فيه طعام من الطعم وشفاء من السقم

“Air terbaik di seluruh muka bumi adalah air zamzam. Di dalamnya terdapat makanan (yang membangkitkan) selera dan obat dari berbagai penyakit.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 11167. Lihat Ash-Shahihah no. 1056.)

Diriwayatkan pula dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءُ سُقْمٍ

“Sesungguhnya air zamzam adalah air yang diberkahi, makanan (yang membangkitkan) selera, dan obat dari berbagai penyakit. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. 295)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ، لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3062, shahih)

Air Zamzam Itu Sesuai dengan Niat Peminumnya

Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Air zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya”, para ulama memahami bahwa kalimat ini bersifat umum. Maksudnya, barangsiapa yang meminum air zamzam dengan berniat disembuhkan dari penyakit, dia akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Demikian pula, bagi siapa saja yang meniatkannya untuk menghapal Al-Qur’an, menghapal hadis, dan yang lainnya. Tentunya, semua itu dapat tercapai dengan ijin Allah Ta’ala.

Dengan kata lain, hadis yang disebutkan di atas bermakna umum, baik manfaat yang ingin didapatkan itu berkaitan dengan dunia atau berkaitan dengan agama (akhirat) si peminumnya.

Pendapat Ulama tentang Minum Air Zamzam untuk Rukyah

Lalu, bagaimana jika seseorang meminumnya dengan harapan agar disembuhkan dari gangguan jin, sihir atau gangguan ‘ain?

Di antara ulama menyebutkan bahwa manusia meminum air zamzam dengan maksud untuk mendapatkan kesehatan, dan Allah Ta’ala pun memberikan karunia tersebut kepada hamba-Nya.

Para ulama kontemporer berselisih pendapat tentang hukum merukyah dengan menggunakan air zamzam. Caranya, kita membaca ayat-ayat rukyah dengan mendekatkan (misalnya) segelas air zamzam ke mulut. Selesai membaca ayat rukyah, air zamzam tersebut diminum.

Sebagian ulama membolehkannya, seperti Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullahu Ta’ala. Sebagian yang lain melarangnya, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Syaikh Al-Albani beralasan bahwa air zamzam itu sendiri adalah obat, sehingga tidak perlu digabung dengan rukyah.

Akan tetapi, tidak terdapat dalil yang melarang rukyah dengan menggunakan air zamzam. Bahkan, di dalamnya terkumpul dua sebab kesembuhan: (1) sebab konkret, berupa air zamzam itu sendiri; dan (2) sebab abstrak, berupa ruqyah (doa). Dua hal ini tentu saja lebih baik dan lebih sempurna dalam usaha berobat. Dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dua sebab tersebut dalam rukyah beliau, misalnya menggabungkan antara debu (turab) dengan tiupan dan doa [Lihat hadis riwayat Abu Dawud no. 3885]; atau antara air, tiupan dan doa (rukyah). Rukyah dengan menggunakan media tertentu tidaklah berarti tidak adanya kesembuhan dan berkah dalam sesuatu tersebut (jika tanpa disertai doa rukyah).

Syaikh Al-Albani rahimahullahu Ta’ala beralasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah melakukannya, sehingga beliau pun berpendapat terlarangnya hal tersebut.

Alasan beliau ini bisa disanggah bahwa jika sesuatu itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah berarti bahwa sesuatu tersebut pasti (otomatis) dilarang. Karena alasan untuk membolehkan perbuatan tersebut adalah alasan yang kuat, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dan juga, tidak terdapat penghalang syar’i yang menyebabkan kita melarang perbuatan tersebut.

Kesimpulan, merukyah dengan menggunakan air zamzam itu diperbolehkan dan lebih utama karena tergabung di dalamnya dua sebab kesembuhan.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahkaam At-Ta’aamul ma’a Al-Jinn wa Adaabu Ar-Ruqa Asy-Syar’iyyah hal. 98-99, karya Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam, penerbit Maktabah Al-Imam Al-Wadi’i, Shan’a (Yaman), cetakan pertama tahun 1434.

PERKARA YANG BOLEH DILAKUKAN SESUDAH TAWAF WADA’

PERTANYAAN

Adakah Tawaf Wada’ wajib dan apakah perkara yang boleh dilakukan sesudah tawaf wada’..?

 

JAWABAN

Alhamdulillah, pujian dan syukur kepada Ilahi dengan berbagai kurniaan dan anugerah yang tidak terhitung buat kita semua. Selawat dan salam ke atas Nabi SAW, keluarga, sahabat dan yang mengikut jejak langkahnya hingga hari kesudahan.

Kami mulai hal ini dengan nas daripada Ibn ‘Abbas R.Anhuma, beliau berkata:

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنْ الْحَائِضِ

Artinya“Banyak orang diperintahkan menjadikan perkara terakhir mereka (ketika melakukan haji dan umrah) adalah dengan tawaf di Kaabah, melainkan diberi keringanan kepada wanita haid.”

Riwayat al-Bukhari (1755) dan Muslim (3284)

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: Hadis ini mengandung dalil tentang kewajiban Tawaf Wada’ di karnakan ada perintah yang dikuatkan dan karna ungkapan adanya keringanan pada wanita haid. (Lihat Fath al-Bari, 3/747)

Hadis di atas menunjukkan Tawaf Wada` hukumnya wajib dan ia dikecualikan pada wanita yang sedang mengalami haid. Perintah wajib ini disebabkan ‘arahan perintah’ (فعل الأمر) dalam hadis ini bersifat ‘mutlak’, tiada qarinah menunjukkkan ia hanya menunjukkan sunat atau harus. Kaedah menjelaskan “الأمر المطلق” menunjukkan wajib (الأمر المطلق يفيد الوجوب). (Lihat Syarh al-Kaukab al-Munir, 3/3 dan Syarh Zad al-Mustaqni’ oleh Muhammad al-Mukhtar al-Syanqithi, 13/127)

Dalam hadis yang lain, daripada Ibn Abbas R.Anhuma, beliau berkata:

كَانَ النَّاسُ يَنْصَرِفُونَ فِى كُلِّ وَجْهٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

Artinya“Dahulunya banyak orang pergi mengikut haluan masing-masing (untuk meninggalkan Makkah). Lalu Rasulullah SAW bersabda: Jangan sekali-kali seseorang daripada kamu meninggalkan makkah sehinggalah akhir keberadaannya (di Mekah) al-Bait (Tawaf al-Wada`).”

Riwayat Muslim (3283), Ibn Majah (3070)

Imam al-Nawawi berkata, “Hadis ini mengandung dalil bagi pendapat yang mewajibkan Tawaf Wada’ dan apabila ditinggalkan maka harus membayar Dam. Inilah pendapat yang sahih menurut mazhab kami dan inilah pendapat majoriti Ulama.” (Lihat Syarh Sahih Muslim, 9/79)

Imam al-Nawawi juga berkata: “Ashab kami mengatakan, “Sesiapa yang telah selesai dari manasiknya dan dia ingin bermukim di Mekah, maka tidak ada ke atasnya Tawaf al-Wada’. Perkara ini tidak ada khilaf padanya. Walaupun dia termasuk penduduknya atau bukan. Namun jika Sekiranya dia ingin keluar dari Makkah ke negaranya atau ke lainnya, maka dia harus melakukan Tawaf al-Wada’.” (Lihat al-Majmu’, 8/254)

Imam al-Zarkasyi berkata: Larangan ke atas sesuatu perkara menunjukkan perintah melakukan lawannya (ضده). Berdasarkan kaedah ini lawan kepada larangan meninggalkan Makkah sebelum tawaf wada` ialah melakukan tawaf wada` sebelum meninggalkan Makkah. Oleh itu melakukan tawaf wada` sebelum meninggalkan Makkah adalah wajib. (Lihat al-Bahr al-Muhit, 2/421)

Imam al-Syaukani ketika menerangkan maksud hadis di atas berkata: “Perkataan Baginda: “Jangan seseorang daripada kamu terus bergerak pulang..” sehingga ke akhirnya, ia merupakan bukti wajibnya Tawaf al-Wada’. (Lihat Nail al-Autar, 5/106)

 

Perkara-perkara Yang Diharuskan setelah Tawaf Wada’, iaitu:

 

Pertama: Sejurus Sesudah Tawaf Wada’

  • Menunaikan solat sunat tawaf dan berdoa sesudahnya di Masjidil Haram.
  • Berdoa di Multazam.
  • Mengucup Al-Hajar al-Aswad (jika memungkinkan)
  • Menunaikan solat sunat safar.
  • Menunaikan solat fardhu sekiranya bilal telah melaungkan azan atau bilal sedang melaungkan azan.
  • Begitu juga apabila sudah sampai di hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram untuk solat fardhu bersama imam di Masjidil Haram.
  • Bergambar atau mengambil gambar dalam kadar yang cepat. (Walaupun begitu, tidak di anjurkan)

 

 Kedua: SesudahTawaf (di Penginapan atau Hotel)

  • Makan dan minum di hotel.
  • Qadha hajat.
  • Menyalin atau mengganti pakaian.
  • Zikir dan membaca al-Quran sementara menunggu.
  • Mengambil tas atau barang yang diletakkan / ditinggalkan di kamar penginapan.
  • Mencari isteri, saudara, waris dan rekan yang hilang.
  • Mengangkat barang-barang yang hendak dibawa bersama.
  • Tidur dalam kamar hotel sementara menunggu bas atau kenderaan datang.
  • Mengunjungi istri waris rekan yang sakit di rumahsakit (untuk kejadian darurat dan hajat).
  • sesuatu urusan berkatian dengan perjalanan ke jeddah atau madinah membeli makanan dan minuman untuk kegunaan bekal dalam perjalanan dan sebagainya.
  • Menunggu kenderaan (keterlambatan atau mengalami ke macetan)
  • Bersedekah ketika menunggu kedatangan kenderaan di penginapan.
  • Membayar dam. Walaupun begitu, dianjurkan untuk membayar sebelum Tawaf Wada’, (bagi yang melanggar pantang larang umrah / haji)

ALLAHU ‘ALAM

RINDU TANAH SUCI

MENGAPA SELALU MERINDUKAN TANAH SUCI…?

TERUNGKAP SUDAH, KENAPA SETIAP ORANG ISLAM YANG SUDAH MAUPUN BELUM KETANAH SUCI PASTI MERINDUKAN INGIN KE TANAH SUCI.

SETIAP umat Islam yang sudah pernah berhaji atau umrah pasti rindu ingin kembali berziarah ke Baitullah. Rumus ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam. Meski belum pernah menginjakkan kaki di tanah suci, hati mereka senantiasa dipenuhi kerinduan untuk menjadi tamu Allah.

Tak heran jutaan umat Islam berkumpul di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Sementara di luar musim haji, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia juga senantiasa berziarah ke Baitullah. Sepanjang tahun Kakbah tak pernah sepi dari umat manusia untuk meraih ridha-Nya.

Mengapa demikian? Rupanya keinginan itu tak lepas dari doa Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT yang pernah meminta agar Ka’bah menjadi yang dirindukan oleh seluruh keturunannya, selain dari perintah Allah yang mawajibkan berhaji sebagai rukun Islam yang ke lima.

Dalam Alquran surat Ibrahim ayat 37 Beliau berdoa, رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya, “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Dari ayat ini dijelaskan, dari Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mewajibkan haji ke Baitullah di mana Allah menempatkan anak keturunan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan yang memikat di hati.”

“Yaitu orang berhaji (ke Kakbah) dan tidak ditunaikan terus menerus, namun setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke kakbah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya“ (Taisir karimir rahman : 427)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka tak heran jika umat muslim yang belum pernah ke tanah suci ingin sekali datang, dan yang sudah pernah ingin kembali lagi, sementara yang sudah berhaji ingin datang saat musim haji meski hanya menjadi petugas kebersihan. Betapa mulianya rumah Allah SWT ini.

#infotiketumroh
#tiketumrohpromo
#ticketumrohmurah
www.ainiewisata.com

HOTLINE:
021-22966419
Whatsapp:
Arif – 081347888600
Ma’mun – 082255818244