BERBOHONG ATAU DUSTA

“Abi bohong”, kata Daud (5 tahun) ketika saya tiba di rumah. ‘Abi’ dalam bahasa Arab artinya ‘bapakku’, mirip dengan panggilan ‘Abah’ yang dalam bahasa Arab bermakna ‘bapaknya’.

Apa penyebabnya? Tidak lain adalah karena pamannya yang menjemputnya pulang sekolah, tidak jadi saya jemput sendiri. Alasan bahwa jadwal kuliah molor sehingga tidak sempat lagi untuk menjemput tidak bisa dicerna oleh pikirannya.

Walaupun kenyataannya tidak berbohong, melainkan ada udzur yang menyebabkan tidak sempat lagi menjemput, tetap saja orang tua perlu hati-hati ketika ‘menjanjikan’ sesuatu kepada anak kecil. Jika kurang hati-hati berbicara, akan ter’framing’ dalam jiwa anak bahwa berbohong adalah hal yang lumrah karena orang tuanya mencontohkan yang demikian. Ini terkait hal yang belum bisa dicerna oleh nalar anak bahwa itu bukan kebohongan.

Adapun jika memang kenyataannya adalah berbohong, maka orang tua wajib menghindarinya, kita anggap sepele atau tidak, berbohong adalah tetap haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan. (HR. Ahmad).

Termasuk yang beliau cela adalah berbohong dalam rangka bercanda, beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Kecelakaan bagi orang yang telah bercerita dengan suatu omongan untuk membuat suatu kaum jadi tertawa, lalu ia dusta. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya” (HR. At-Tirmidzi).

Salah satu hikmah dari larangan berbohong mulai dari hal-hal kecil adalah agar tidak dicap oleh Allah sebagai pembohong. Hal ini karena suatu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru dalam rangka menutupi kebohongan lama, lambat laun akan hilanglah rasa malu untuk berbohong, kalau sudah tidak malu berbohong, maka layaklah dirinya dicap sebagai pembohong. Rasulullah saw bersabda:

وَمَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

“…dan senantiasa seorang hamba berdusta dan memilih yang dusta sehingga akhirnya dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR.al Bukhari dan Muslim).

Membohongi anak sama artinya dengan mencelakakan anak. Jika anak sudah terbiasa dibohongi, lalu kebohongan itu ‘menular dan merasuk’ ke dalam diri anak, sekalipun orang tua tersebut berhasil mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi, menjadikan anaknya dipercaya memimpin manusia, namun ‘penyakit’ bohongnya tidak berhasil ‘diobati’, sama saja orang tua tersebut telah mengumpankan anaknya ke dalam neraka. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati ketika sedang menipu rakyatnya, kecuali  Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)[1]

Itu terkait efek di akhirat. Adapun di dunia, kebohongan akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Bohong dalam melaporkan keuangan melahirkan korupsi. Bohong dalam melaporkan data pertanian berujung kebingungan: produksi surplus mengapa harus tetap impor?[2], lalu muncul ‘kebohongan’ baru untuk menjelaskan kebohongan lama. Bohongnya panitia dalam ujian sekolah akan menularkan kebohongan ke dalam diri siswa. Bohong kepada dokter, masih sakit sudah bilang sehat, akan menjadikan sakitnya tidak sembuh-sembuh. Bohong kepada guru, belum faham sudah bilang faham, akan menjadikannya mengecap pahitnya kebodohan. Bohongnya “ulama” kepada umat akan menyebabkan umat tertipu hingga masuk ‘surga bohongan’. Jika hal-hal ini dibiarkan rusaklah negara.

Allâhu A’lam.

sumber :mtaufiknt.wordpress.com

Leave a Comment