Hukum Meruqyah dengan Air Zam-zam

Tidaklah kita ragukan lagi sebagai seorang muslim bahwa air zamzam mengandung keberkahan. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم فيه طعام من الطعم وشفاء من السقم

“Air terbaik di seluruh muka bumi adalah air zamzam. Di dalamnya terdapat makanan (yang membangkitkan) selera dan obat dari berbagai penyakit.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 11167. Lihat Ash-Shahihah no. 1056.)

Diriwayatkan pula dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ وَشِفَاءُ سُقْمٍ

“Sesungguhnya air zamzam adalah air yang diberkahi, makanan (yang membangkitkan) selera, dan obat dari berbagai penyakit. (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Ash-Shaghir no. 295)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ، لِمَا شُرِبَ لَهُ

“Air zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3062, shahih)

Air Zamzam Itu Sesuai dengan Niat Peminumnya

Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Air zamzam itu sesuai dengan niat peminumnya”, para ulama memahami bahwa kalimat ini bersifat umum. Maksudnya, barangsiapa yang meminum air zamzam dengan berniat disembuhkan dari penyakit, dia akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Demikian pula, bagi siapa saja yang meniatkannya untuk menghapal Al-Qur’an, menghapal hadis, dan yang lainnya. Tentunya, semua itu dapat tercapai dengan ijin Allah Ta’ala.

Dengan kata lain, hadis yang disebutkan di atas bermakna umum, baik manfaat yang ingin didapatkan itu berkaitan dengan dunia atau berkaitan dengan agama (akhirat) si peminumnya.

Pendapat Ulama tentang Minum Air Zamzam untuk Rukyah

Lalu, bagaimana jika seseorang meminumnya dengan harapan agar disembuhkan dari gangguan jin, sihir atau gangguan ‘ain?

Di antara ulama menyebutkan bahwa manusia meminum air zamzam dengan maksud untuk mendapatkan kesehatan, dan Allah Ta’ala pun memberikan karunia tersebut kepada hamba-Nya.

Para ulama kontemporer berselisih pendapat tentang hukum merukyah dengan menggunakan air zamzam. Caranya, kita membaca ayat-ayat rukyah dengan mendekatkan (misalnya) segelas air zamzam ke mulut. Selesai membaca ayat rukyah, air zamzam tersebut diminum.

Sebagian ulama membolehkannya, seperti Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullahu Ta’ala. Sebagian yang lain melarangnya, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu Ta’ala. Syaikh Al-Albani beralasan bahwa air zamzam itu sendiri adalah obat, sehingga tidak perlu digabung dengan rukyah.

Akan tetapi, tidak terdapat dalil yang melarang rukyah dengan menggunakan air zamzam. Bahkan, di dalamnya terkumpul dua sebab kesembuhan: (1) sebab konkret, berupa air zamzam itu sendiri; dan (2) sebab abstrak, berupa ruqyah (doa). Dua hal ini tentu saja lebih baik dan lebih sempurna dalam usaha berobat. Dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dua sebab tersebut dalam rukyah beliau, misalnya menggabungkan antara debu (turab) dengan tiupan dan doa [Lihat hadis riwayat Abu Dawud no. 3885]; atau antara air, tiupan dan doa (rukyah). Rukyah dengan menggunakan media tertentu tidaklah berarti tidak adanya kesembuhan dan berkah dalam sesuatu tersebut (jika tanpa disertai doa rukyah).

Syaikh Al-Albani rahimahullahu Ta’ala beralasan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah melakukannya, sehingga beliau pun berpendapat terlarangnya hal tersebut.

Alasan beliau ini bisa disanggah bahwa jika sesuatu itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah berarti bahwa sesuatu tersebut pasti (otomatis) dilarang. Karena alasan untuk membolehkan perbuatan tersebut adalah alasan yang kuat, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dan juga, tidak terdapat penghalang syar’i yang menyebabkan kita melarang perbuatan tersebut.

Kesimpulan, merukyah dengan menggunakan air zamzam itu diperbolehkan dan lebih utama karena tergabung di dalamnya dua sebab kesembuhan.

Wallahu Ta’ala a’lam.

 

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ahkaam At-Ta’aamul ma’a Al-Jinn wa Adaabu Ar-Ruqa Asy-Syar’iyyah hal. 98-99, karya Syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘Abdullah Al-Imam, penerbit Maktabah Al-Imam Al-Wadi’i, Shan’a (Yaman), cetakan pertama tahun 1434.

PERKARA YANG BOLEH DILAKUKAN SESUDAH TAWAF WADA’

PERTANYAAN

Adakah Tawaf Wada’ wajib dan apakah perkara yang boleh dilakukan sesudah tawaf wada’..?

 

JAWABAN

Alhamdulillah, pujian dan syukur kepada Ilahi dengan berbagai kurniaan dan anugerah yang tidak terhitung buat kita semua. Selawat dan salam ke atas Nabi SAW, keluarga, sahabat dan yang mengikut jejak langkahnya hingga hari kesudahan.

Kami mulai hal ini dengan nas daripada Ibn ‘Abbas R.Anhuma, beliau berkata:

أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ إِلَّا أَنَّهُ خُفِّفَ عَنْ الْحَائِضِ

Artinya“Banyak orang diperintahkan menjadikan perkara terakhir mereka (ketika melakukan haji dan umrah) adalah dengan tawaf di Kaabah, melainkan diberi keringanan kepada wanita haid.”

Riwayat al-Bukhari (1755) dan Muslim (3284)

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata: Hadis ini mengandung dalil tentang kewajiban Tawaf Wada’ di karnakan ada perintah yang dikuatkan dan karna ungkapan adanya keringanan pada wanita haid. (Lihat Fath al-Bari, 3/747)

Hadis di atas menunjukkan Tawaf Wada` hukumnya wajib dan ia dikecualikan pada wanita yang sedang mengalami haid. Perintah wajib ini disebabkan ‘arahan perintah’ (فعل الأمر) dalam hadis ini bersifat ‘mutlak’, tiada qarinah menunjukkkan ia hanya menunjukkan sunat atau harus. Kaedah menjelaskan “الأمر المطلق” menunjukkan wajib (الأمر المطلق يفيد الوجوب). (Lihat Syarh al-Kaukab al-Munir, 3/3 dan Syarh Zad al-Mustaqni’ oleh Muhammad al-Mukhtar al-Syanqithi, 13/127)

Dalam hadis yang lain, daripada Ibn Abbas R.Anhuma, beliau berkata:

كَانَ النَّاسُ يَنْصَرِفُونَ فِى كُلِّ وَجْهٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِ بِالْبَيْتِ

Artinya“Dahulunya banyak orang pergi mengikut haluan masing-masing (untuk meninggalkan Makkah). Lalu Rasulullah SAW bersabda: Jangan sekali-kali seseorang daripada kamu meninggalkan makkah sehinggalah akhir keberadaannya (di Mekah) al-Bait (Tawaf al-Wada`).”

Riwayat Muslim (3283), Ibn Majah (3070)

Imam al-Nawawi berkata, “Hadis ini mengandung dalil bagi pendapat yang mewajibkan Tawaf Wada’ dan apabila ditinggalkan maka harus membayar Dam. Inilah pendapat yang sahih menurut mazhab kami dan inilah pendapat majoriti Ulama.” (Lihat Syarh Sahih Muslim, 9/79)

Imam al-Nawawi juga berkata: “Ashab kami mengatakan, “Sesiapa yang telah selesai dari manasiknya dan dia ingin bermukim di Mekah, maka tidak ada ke atasnya Tawaf al-Wada’. Perkara ini tidak ada khilaf padanya. Walaupun dia termasuk penduduknya atau bukan. Namun jika Sekiranya dia ingin keluar dari Makkah ke negaranya atau ke lainnya, maka dia harus melakukan Tawaf al-Wada’.” (Lihat al-Majmu’, 8/254)

Imam al-Zarkasyi berkata: Larangan ke atas sesuatu perkara menunjukkan perintah melakukan lawannya (ضده). Berdasarkan kaedah ini lawan kepada larangan meninggalkan Makkah sebelum tawaf wada` ialah melakukan tawaf wada` sebelum meninggalkan Makkah. Oleh itu melakukan tawaf wada` sebelum meninggalkan Makkah adalah wajib. (Lihat al-Bahr al-Muhit, 2/421)

Imam al-Syaukani ketika menerangkan maksud hadis di atas berkata: “Perkataan Baginda: “Jangan seseorang daripada kamu terus bergerak pulang..” sehingga ke akhirnya, ia merupakan bukti wajibnya Tawaf al-Wada’. (Lihat Nail al-Autar, 5/106)

 

Perkara-perkara Yang Diharuskan setelah Tawaf Wada’, iaitu:

 

Pertama: Sejurus Sesudah Tawaf Wada’

  • Menunaikan solat sunat tawaf dan berdoa sesudahnya di Masjidil Haram.
  • Berdoa di Multazam.
  • Mengucup Al-Hajar al-Aswad (jika memungkinkan)
  • Menunaikan solat sunat safar.
  • Menunaikan solat fardhu sekiranya bilal telah melaungkan azan atau bilal sedang melaungkan azan.
  • Begitu juga apabila sudah sampai di hotel yang berdekatan dengan Masjidil Haram untuk solat fardhu bersama imam di Masjidil Haram.
  • Bergambar atau mengambil gambar dalam kadar yang cepat. (Walaupun begitu, tidak di anjurkan)

 

 Kedua: SesudahTawaf (di Penginapan atau Hotel)

  • Makan dan minum di hotel.
  • Qadha hajat.
  • Menyalin atau mengganti pakaian.
  • Zikir dan membaca al-Quran sementara menunggu.
  • Mengambil tas atau barang yang diletakkan / ditinggalkan di kamar penginapan.
  • Mencari isteri, saudara, waris dan rekan yang hilang.
  • Mengangkat barang-barang yang hendak dibawa bersama.
  • Tidur dalam kamar hotel sementara menunggu bas atau kenderaan datang.
  • Mengunjungi istri waris rekan yang sakit di rumahsakit (untuk kejadian darurat dan hajat).
  • sesuatu urusan berkatian dengan perjalanan ke jeddah atau madinah membeli makanan dan minuman untuk kegunaan bekal dalam perjalanan dan sebagainya.
  • Menunggu kenderaan (keterlambatan atau mengalami ke macetan)
  • Bersedekah ketika menunggu kedatangan kenderaan di penginapan.
  • Membayar dam. Walaupun begitu, dianjurkan untuk membayar sebelum Tawaf Wada’, (bagi yang melanggar pantang larang umrah / haji)

ALLAHU ‘ALAM

RINDU TANAH SUCI

MENGAPA SELALU MERINDUKAN TANAH SUCI…?

TERUNGKAP SUDAH, KENAPA SETIAP ORANG ISLAM YANG SUDAH MAUPUN BELUM KETANAH SUCI PASTI MERINDUKAN INGIN KE TANAH SUCI.

SETIAP umat Islam yang sudah pernah berhaji atau umrah pasti rindu ingin kembali berziarah ke Baitullah. Rumus ini juga berlaku untuk seluruh umat Islam. Meski belum pernah menginjakkan kaki di tanah suci, hati mereka senantiasa dipenuhi kerinduan untuk menjadi tamu Allah.

Tak heran jutaan umat Islam berkumpul di Makkah untuk melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Sementara di luar musim haji, jutaan muslim dari berbagai penjuru dunia juga senantiasa berziarah ke Baitullah. Sepanjang tahun Kakbah tak pernah sepi dari umat manusia untuk meraih ridha-Nya.

Mengapa demikian? Rupanya keinginan itu tak lepas dari doa Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT yang pernah meminta agar Ka’bah menjadi yang dirindukan oleh seluruh keturunannya, selain dari perintah Allah yang mawajibkan berhaji sebagai rukun Islam yang ke lima.

Dalam Alquran surat Ibrahim ayat 37 Beliau berdoa, رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya, “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (QS. Ibrahim: 37).

Dari ayat ini dijelaskan, dari Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah mewajibkan haji ke Baitullah di mana Allah menempatkan anak keturunan nabi Ibrahim dan Allah menjadikannya suatu rahasia mengagumkan yang memikat di hati.”

“Yaitu orang berhaji (ke Kakbah) dan tidak ditunaikan terus menerus, namun setiap kali seorang hamba pergi bolak-balik ke kakbah maka semakin bertambah kerinduannya, semakin besar kecintaannya dan kerinduannya“ (Taisir karimir rahman : 427)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka tak heran jika umat muslim yang belum pernah ke tanah suci ingin sekali datang, dan yang sudah pernah ingin kembali lagi, sementara yang sudah berhaji ingin datang saat musim haji meski hanya menjadi petugas kebersihan. Betapa mulianya rumah Allah SWT ini.

#infotiketumroh
#tiketumrohpromo
#ticketumrohmurah
www.ainiewisata.com

HOTLINE:
021-22966419
Whatsapp:
Arif – 081347888600
Ma’mun – 082255818244

KHASIAT AIR ZAM-ZAM

 

 

عن جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Jabir bin Abdullah melaporkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Air Zam-zam berkhasiat sesuai dengan niat peminumnya. (HR. Ibn Majah, hadits shahih. Lihat Irwa-ul Ghalil, al Albani, 1/218.)

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ إِنْ شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي شَفاَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِشَبْعِكَ أَشْبَعَكَ الله ُوَإِنْ شَرِبْتَهُ لِقَطْعِ ظَمْئِكَ قَطَعَهُ اللهُ وَهِيَ هَزْمَةُ جِبْرَائِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَسُقْيَا اللهِ إسْمَاعِيْلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ

Dari Ibnu ‘Abbas Ra., Rasulullah SAW. bersabda: “Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam ialah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail.”

(HR. Daru Qutni dan Hakim, Hadits hasan li ghairihi. Lihat kitab Shahih Targhib wa Tarhib, al Albani, 2/19.)

 

Ada beberapa hadis lain terkait air zam-zam ini :

وَعَنْ أَبِيْ الطُّفَيْلِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ كُنَّا نُسَمِّيْهَا شَبَّاعَةً يَعْنِيْ زَمْزَمَ وَكُنَّا نَجِدُهَا نِعْمَ الْعَوْنُ عَلَى الْعِيَالِ

Dari Abi Thufail, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda,”Kami menyebut air Zam-Zam dengan syuba’ah (yang mengenyangkan). Dan kami juga menerima air Zam-Zam ialah sebaik-baik pinjaman (kebutuhan atas kemiskinanan).”
(HR. Tabrani. Lihat kitab Shahih Targhib wa Tarhib, al Albani, 2/19)

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا بِسِجِلٍّ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأ

Dari Usamah, gotong royong Rasulullah meminta untuk didatangkan segantang air Zam-Zam, lalu dia meminumnya dan berwudhu dengannya. (HR Ahmad. Lihat kitab Mukhtasar Irwa-ul Ghalil, al Albani, 1/3)

كَانَ يَحْمِلُ مَاءَ زَمْزَمَ  فِيْ الأَدَاوِيْ وَالْقِرَبِ وَكَانَ يَصُبُّ عَلىَ الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ

Disebutkan dalam Silsilah Shahihah, ialah Rasululllah membawa air Zam-Zam di dalam kantong-kantong air. Beliau menuangkan dan membasuhkannya kepada orang yang sedang sakit. (Lihat kitab Silsilah Shahihah, 4/232)

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ قَالَ رَسُوْلُ الله – صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامُ الطَّعْمِ، وَشِفَاءُ السَّقْمِ،

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi ialah Zam-Zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan penawar penyakit.”
(Hadits hasan. Lihat kitab Shahih Targhib wa Tarhib, al Albani, 2/18)

 

كُنْتُ أُجَالِسُ ابْنَ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَأَخَذَتْنِيْ الحْمُىَ فَقَالَ أَبْرِدْهَا عَنْكَ بِمَاءِ زَمْزَمَ فإَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحُمَى مِنْ فيَحْ ِجَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ أَوْ قاَلَ بِمَاءِ زَمْزَمَ  .

Dari Hammam, dari Abi Jamrah ad-Duba`i, ia berkata, “Aku duduk bersama Ibnu ‘Abbas di Mekkah, tatkala demam menyerangku. Ibnu ‘Abbas mengatakan, dinginkanlah dengan air Zam-Zam, karena Rasulullah mengatakan, sesungguhnya demam ialah dari panas Neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air atau air Zam-Zam”
(Lihat kitab Shahihul-Bukhari. Lihat kitab Musnad Ahmad)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّهَا كَانَتْ تَحْمِلُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ وَتُخْبِرُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ كاَنَ يَحْمِلُهُ

Dari ‘Aisyah, ia membawa air Zam-Zam. Ia mengkabarkan, “Sesungguhnya dahulu Rasulullah membawanya sebagai bekal perjalanan.” (Hadist hasan, sebagaimana dikatakan oleh Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al Albani. Lihat kitab Sunan Tirmidzi.)

A. Sejarah Air Zam-zam

Sumur  zam-zam merupakan sumur yang dieksploitasi malaikat Jibril atas perintah Allah SWT sejak jauh sebelum kelahiran Nabi SAW. Sejarah munculnya diawali dengan kisah Nabi Ismail as yang masih balita dan ibunya. Hajar diajak oleh Nabi Ibrahim as. ke sebuah lembah tandus nan gersang di sekitar Baitullah.

Ketika Hajar gelisah dan terperanjat dengan keadaan yang sangat menyedihkan dengan ketiadaan air, tumbuhan dan penduduk, ia bertanya kepada suaminya: “Kepada siapakan, kami ditinggalkan di tempat seperti ini? “Kepada Allah swt,” jawab Nabi Ibrahim. “Kami rela dan pasrah dengan Allah”, sahut Hajar. Kemudian Nabi Ibrahim meyakinkan istrinya bahwa apa yang dilakukannya adalah atas peritah Allah swt.

Akhirnya, keduanya ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dan melakukan perjalanan ke dekat Baitullah. Sesampainya di Baitullah, ia berdoa kepada Allah untuk keselamatan, kecukupan rezeki, dan perlindungan terhadap keduannya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” QS. Ibrahim (14): 37.

Setelah beberapa lama ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, Hajar merasakan anaknya, Isma’il mengalami kehausan yang demikian parah, lalu keduanya lari mondar-mandir antara Shafa dan Marwa mencari sumber air, sampai pada akhirnya muncul keajaiban sumur zam-zam dalam sejarah dari hasil tendangan atau injakan kaki Nabi Isma’il yang pada saat itu masih dalam keadaan bayi. Injakan inilah yang menghantarkan adanya kekuatan bantuan Jibril atas perintah Allah, sehingga mengalir air dari sumur yang kemudian dikenal dengan sumur zam-zam.

Munculnya sumur ini di tengah bebatuan padang pasir yang senantiasa berubah-ubah dan tidak stabil, dengan kepadatan batu yang sudah sangat mengkristal, tidak bercelah dan berlubang sama sekali, bahkan umumnya tidak tertembus dan terembesi air merupakan suatu hal yang sangat menakjubkan dan membetot pandangan.

Lebih menakjubkan dan mencengangkan lagi, ternyata sumur itu terus memancarkan fresh pure water (al-ma’ al-zulal) dalam jangka 4000 tahun, kendati telah tertimbun tanah dan digali berkali-kali sepanjang masa ini. Rata-rata pencaran sumur zam-zam setiap hari mencapai 11 sampai 18,5 liter perdetik.

Sumur itu benar-benar sumur yang berkah. Sumbernya muncul dengan penuh kemukjizatan sebagai anugerah bagi Nabi Ibrahim AS, istrinya, dan anaknya Nabi Ismail AS. Sumber air zam-zam yang memancar ke sumur zam-zam baru diketahui setelah penggalian terowongan di sekitar Mekah al-Mukarramah. Para pekerja memperhatikan pencaran air yang begitu deras di dalam terowongan tersebut dari belahan-belahan kapiler sangat kecil yang membentang sampai jarak yang sangat luar biasa jauhnya dari Mekah al-Mukarramah, dan seluruh kawasan di sekitarnya.

Hal ini mempertegas sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa sumur zam-zam muncul dari galian dahsyat yang dideskripsikan Rasulullah SAW sebagai Hazmah Jibril AS dan suqyah Allah SWT untuk Ismail AS.Sebab hazmah menurut arti bahasa berarti galian yang dahsyat.

Bertolak dari kemuliaan tempat dan kedalaman keimanan orang-orang yang dimuliakan di dalamnya, muncullah kekeramatan dan khasiat ampuh air zam-zam yang dideskripsikan Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya: Air zam-zam tergantung maksud diminumnya. Dalam sabda lain, beliau juga menyatakan: Sebaik-baik air yang terdapat di muka bumi adalah air zam-zam yang di dalamnya terdapat makanan yang lezat dan obat penyembuh untuk berbagai macam penyakit.

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah RA. bahwasanya ia selalu membawa air zam-zam setiap kali berziarah ke Mekah al-Mukarramah. Rasulllah SAW sendiri juga suka membawanya untuk diminumkan pada orang-orang yang sakit dan dibasuhkan pada bagian-bagian tubuh yang sakit, sehingga mereka sembuh dari sakit dan bagian tubuh mereka pun pulih kembali dengan izin dan kehendak Allah SWT.

B. Komentar Para Ulama tentang Air Zam-zam

Dalam Kitab Faidh al-Qadir, tepatnya pada penjelasan hadis Nabi: Air zam-zam tergantung maksud diminumnya, disebutkan: Sabda Rasulullah SAW yang mengatakan, tergantung maksud diminumnya ini bertolak dari peminuman dan pertolongan Allah terhadap Nabi Ismail AS, putra kekasih Allah Ibrahim AS (yang kala itu menangis-nangis kehausan). Khasiat ini masih tetap menjadi pertolongan bagi generasi setelahnya. Oleh karena itu, barang siapa yang meminumnya dengan ikhlas, ia akan mendapatkan pertolongan itu. Banyak ulama yang meminumnya untuk maksud-maksud tertentu dan mereka terbukti memperolehnya.

Ibnu al-Qayyim misalnya mengungkapkan dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad: “Saya sendiri dan banyak orang selain saya yang telah merasakan khasiat yang menakjubkan dari terapi penyembuhan dengan media air zam-zam. Saya meminumnya demi menyembuhkan sejumlah penyakit dan dengan izin Allah saya benar-benar sembuh. Saya juga pernah menyaksikan orang yang hanya mengonsumsi air zam-zam selama berhari-hari, lebih kurang setengah bulan, dan ia tidak merasa lapar sedikit pun.” Hal itu membuktikan kebenaran deskripsi Rasulullah SAW tentang air zam-zam yang berkah itu sebagai: Di dalam air zam-zam terdapat makanan yang lezat dan obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit.

Asy-Syaukani menambahkan dalam kitabnya, Nail al-Authar: Sabda Nabi SAW: Air zam-zam tergantung maksud diminumnya, mengandung dalil bahwa air zam-zam bermanfaat bagi orang yang meminumnya untuk berbagai maksud dan tujuan yang ingin dicapai, baik maksud dan tujuan di dunia maupun di kahirat, karena huruf ma dalam frasa li ma syuriba lahu berformula umum (tidak terikat untuk tujuan tertentu).

 

Hingga zaman kita sekarang ini, sudah banyak tercatat mukjizat kesembuhan sejumlah besar orang dari berbagai macam penyakit yang sulit disembuhkan dengan membiasakan diri mengonsumsi air zam-zam.

 

C. Air Zam-Zam Sempat Difitnah Beberapa Kali di Eropa

Pada tahun 1304 H, pihak konsultan Inggris di Jeddah mempublikasikan sebuah tes penelitian mengenai air zam-zam. Dalam pernyataannya, mereka mengaku menerima air zam-zam dari seorang muslim yang bekerja di konsultan.

Setelah dilakukan tes pada air tersebut, maka mereka membuat sebuah pernyataan yang penuh dengan kedengkian, “Sesungguhnya air zam-zam banyak mengandung kuman berbahaya dan virus penyakit kolera, bahkan air zam-zam lebih berbahaya dibandingkan air got.”

Maka dipublikasikanlah pernyataan miring wacana air zam-zam ini ke khalayak umum. Masa itu ialah masa dimana masih berdirinya kerajaan Turki Usmani.

Ketika khalifah dikala itu, Shulthan Abdul Hamid ats-Tsani (1263–1339 H) mengetahui pernyataan yang tedensius tersebut, maka dengan cepat dia mengirim dokter andal yang profesional ke Makkah, biar secara pribadi melaksanakan penelitian wacana air zam-zam, hasilnya diketahui bahwa air zam-zam tidak ibarat apa yang diberitakan pihak konsultan Inggris tersebut.

Setelah itu, pihak kerajaan Turki Usmani membuat sebuah pernyataan bantahan secara resmi kepada konsultan Inggris, sebagian isinya:

“Sesungguhnya orang pembawa air yang kalian tes itu merupakan seorang Yahudi yang dirinya berpura-pura sebagai orang Islam, dia mengambil air got untuk kalian, bukan air zamzam. Maka hasil tes kalian itu benar terhadap air got yang dia bawa, tetapi itu bukan air zamzam. Kami sudah melaksanakan tes pada air zam-zam yang asli, dan ternyata hasilnya bersih tanpa ditemukan di dalamnya terkandung zat zat berbahaya atau penyakit kolera.”

Dokumen wacana pernyataan Konsultan Inggris beserta juga bantahannya disimpan dalam bentuk sebuah manuskrip dalam bahasa Turki. Manuskrip tersebut pernah dimuat dengan menggunakan bahasa Arab di dalam Majalah Liwāul Islām, Kairo, edisi 2, Dzulhijjah 1367 H. (Lihat Fadhlu Māa Zamzam hlm. 163–164 oleh Sa’id Bakdasy)

Lalu, pada tahun 1971, seseorang doktor dari Mesir memberikan terdapat kabar tidak sedap di Eropa bahwa air zam-zam diisukan tidak sehat dan aman.

Alasannya karena air zam-zam yang bersumber dari kota Mekkah, ada di bawah garis permukaan laut. Dimana mereka mengatakan bahwa air zam-zam berasal dari air sisa buangan masyarakat kota Mekah yang meresap, lalu terbawa bersamaan dengan air hujan, lalu muncul di telaga zam-zam.

Kabar ini kemudian diketahui oleh Raja Faisal yang kemudian secara cepat meminta untuk dilakukan penyelidikan mengenai dilema ini. Bahkan sampel air zam-zam dikirim ke banyak laboratorium di Eropa untuk sekalian diuji.

Sejarah kembali berulang, pada masa sekarang ini, sebuah media terkenal di Inggris yaitu BBC pada tanggal 5 Mei 2011 menyebutkan bahwa air zam-zam sudah terkontaminasi zat berbahaya. Bahkan BBC mengatakan bahwa meminum air zamzam bisa menyebabkan penyakit kanker.

Menanggapi hal tersebut, maka dengan segera otoritas Arab Saudi menyatakan bahwa pemberitaan BBC tersebut ialah sebuah kesalahan. Berita BBC ini menyebabkan kehebohan bagi umat Islam se-dunia, namun kondisi kmbali hening setelah adanya pernyataan resmi dari Zuhair Nawab, Presiden Saudi Geological Survey (SGS), yang menyatakan bahwa tuduhan BBC tersebut tidak benar.

Bahkan lembaga SGS seringkali menegaskan bahwa pihaknya sudah mempunyai langkah-langkah yang baik untuk menjamin keamanan sumur air Zamzam. Dimana kualitas air Zamzam akan terus dipantau kondisinya setiap hari.

Sudah banyak banyak sekali bukti kebencian orang-orang yang tidak suka Islam yang melemparkan segala fitnah mengenai air zam-zam ini. Menteri Urusan Haji Arab Saudi menjelaskan bahwa banyak sekali tuduhan tersebut ialah “pencemaran publik” yang dilancarkan oleh mereka yang sangat membenci Islam. Beliau menegaskan bahwa pengelolaan air zamzam selalu dipantau setiap harinya, dan telah melalui proses panjang dari para andal di bidangnya.

Selain itu, jikalau kita melihat sejarah, maka lihatlah fakta air zam-zam dari dulu, apakah mengonsumsinya menyebabkan sakit? Atau bahkan sakit kanker ibarat yang dituduhkan? Bahkan kenyataannya, banyak orang-orang yang sembuh dari penyakit setelah mereka minum air zamzam.

D. Keistimewaan Kandungan Air Zam-zam

Berbagai penelitian ilmiah yang dilakukan untuk menguji air zam-zam membuktikan air zam-zam memiliki keunikan dalam sifat alaminya dan kimiawinya.

  1. Air zam-zam adalah air karbonasi yang tajam dan kaya akan unsur-unsur dan komposisi kimia bermanfaat yang mencapai sekitar 2.000 miligram per liternya. Bandingkan dengan presentase garam air sumur bor Mekah al-Mukarramah dan oase-oase di sekitarnya yang hanya mencapai 260 miligram per liternya. Hal ini mengisyaratkan jauhnya sumber mata air zam-zam dari sumber-sumber air lain yang berada di sekitar Mekah al-Mukarramah. Di samping mengisyaratkan keunikannya dibanding air zam-zam lain dari segi kandungan zat kimia dan sifat alaminya.
  2. Termasuk keistimewaan air zam-zam, ia juga sulit mengkristal meskipun disimpan di tempat dingin sekalipun prosesya dilipatgandakan 1000 kali lipatnya air yang sudah diseterilkan (distilled water)
  3. Unsur-unsur kimia yang terkandung dalam air zam-zam dapat dibagi menjadi ion-ion (bagian terkecil yang berisi muatan listrik) positif yang terdiri atas ion sodium (sekitar 250 miligram per liternya), ion kalsium (sekitar 200 miligram per liternya), potasium (unsur kimia halus dan berwarna putih – sekitar 120 miligram per liternya), dan magnesium (logam berwarna perak yang bercahaya kalau dibakar – sekitar 50 miligram per liternya). Selain itu juga terdapat ion-ion negatif yang terdiri atas ion sulfat (garam asam belerang – sekitar 372 miligram per liternya), bikarbonat (sekitar 366 miligram per liternya), netrat (garam asam sendawa – sekitar 273 miligram per liternya), fosfat (sekitar 25,0 miligram per liternya) dan ammonia (sekitar 6 miligram per liternya). Setiap komposisi dari sekian banyak komposisi kimia ini masing-masing mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan vitalitas sel-sel tubuh manusia dan mengganti kekurangan komposisi kimia di dalam sel-sel tersebut. Dan sudah terbukti bahwa ada keterkaitan yang erat antara kekurangan komposisi kimia tubuh manusia dengan berbagai macam penyakit.
  4. Sudah diketahui pula bahwa air mineral yang layak maupun tidak layak diminum telah digunakan untuk terapi pengobatan dari berbagai macam penyakit sejak berabad-abad yang lalu. Air mineral yang layak diminum telah membuktikan perannya dalam penyembuhan sejumlah penyakit, misalnya keasaman perut, kesulitan percernaan dan berbagai penyakit pembuluh darah koroner (angina pectoris– nyeri dada yang mencekam dan pembekuan atau penggumpalan pada pembuluh darah), dan lain-lain. Sedangkan air mineral yang tidak layak diminum tetap bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit, reumatik, radang otot dan urat, dan lain-lain. Secara umum, peran air mineral tersebut adalah untuk meningkatkan kelancaran peredaran darah atau berperan sebagai pengganti kerusakan berbagai unsur di dalam tubuh pasien pengidap penyakit.
  5. Hal lainnya, selama ribuan tahun sumur zam-zam tidak pernah kering, bahkan airnya tidak pernah habis walaupun digunakan oleh jutaan umat manusia. Apalagi dikala demam isu haji tiba. Hal ini abnormal karena sulit masuk nalar dimana sumur zam-zam ini yang luas permukaannya hanya selebar 3-4 meter dan kedalamannya 30 meter, sehingga bisa dikatakan ini merupakan sumur yang sangat kecil untuk bisa menghasilkan air sedemikian banyak untuk memenuhi kebutuhan jutaan manusia. Dimana perlu diketahui, bahwa pada satu demam isu haji terdapat lebih dari 2 juta orang yang masing-masing membawa 5-20 liter air zam-zam. Walaupun diambil terus-menerus tetapi sumur zam-zam airnya tidak pernah habis.

Dengan demikian, air zam-zam yang secara sains mengandung unsur/zat yang sangat bermanfaat memiliki kaitan yang sangat erat dengan penyembuhan penyakit. Oleh karena itu, pengertian dari kalimat lima syuriba lah dalam hadis tersebut lebih tepat dimaknai dengan ikhtiar medis, baik sebagai tindakan preventif maupun terapis.

Jadi, hadis tentang air zam-zam tidak bertentangan dengan sains, justru memiliki kaitan yang sangat erat dengan sains. Hadis tersebut menginformasikan kelebihan air zam-zam yang dapat dikonsumsi untuk kepentingan kesehatan, karena kadar kandungan zat dalam air tersebut melebihi air mineral yang paling bagus sekalipun, di samping untuk tujuan peningkatan keimanan dengan merasakan, menyelami, dan menghayati tanda kebesaran ciptaan Allah swt, sehingga memiliki kesadaran spiritual dalam setiap langkah dalam kehidupan di dunia.

E. Manfaat Air Zam-Zam dalam Kehidupan Sehari-Hari

Berbagai penelitian ilmiah yang dilakukan untuk menguji air zam-zam membuktikan air zam-zam memiliki keunikan khasiat dan manfaat, baik secara kesehatan fisik maupun spiritual:

  1. Air zam-zam adalah air yang penuh keberkahan. Air zam-zam adalah sebaik-baik air di muka bumi ini. Nabi SAW. bersabda,

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit.”

Boleh mengambil keberkahan dari air tersebut karena hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi SAWDianjurkan bagi orang yang meminum air zam-zam untuk memerciki air tersebut pada kepala, wajah dan dadanya. Sedangkan ngalap berkah dari benda-benda lainnya, seperti dari keris, batu ajaib, maka seperti ini adalah ngalap berkah yang tidak berdasar.

  1. Air zam-zam bisa menjadi makanan yang mengenyangkan.

Nabi SAW. menyebut air zam-zam,

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

“Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.”

  1. Do’a bisa terkabulkan melalui keberkahan air zam-zam

Hendaklah seseorang memperbanyak do’a ketika meminum air zam-zam. Ketika meminumnya, hendaklah ia meminta pada Allah kemaslahatan dunia dan akhiratnya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Ibnu ‘Abbas ra, bahwa Rasulullah SAW.bersabda,

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.

Maksudnya do’a apa saja yang diucapkan ketika meminumnya adalah do’a yang mustajab]. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ketika meminum air zam-zam, beliau berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit”.

Namun riwayat ini adalah riwayat yang dho’if perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Para ulama bersepakat bolehnya menggunakan air tersebut untuk bersuci. Namun mereka mengatakan sebisa mungkin dijauhi untuk hal-hal yang rendah seperti membersihkan najis dan semacamnya. Al ‘Allamah Al Bahuti rh. dalam Kasyful Qona’ mengatakan,

كَذَا يُكْرَهُ ( اسْتِعْمَالُ مَاءِ زَمْزَمَ فِي إزَالَةِ النَّجَسِ فَقَطْ ) تَشْرِيفًا لَهُ ، وَلَا يُكْرَهُ اسْتِعْمَالُهُ فِي طَهَارَةِ الْحَدَثِ

“Dimakruhkan menggunakan air zam-zam untuk menghilangkan najis saja, dalam rangka untuk memuliakan air tersebut. Sedangkan menggunakannya untuk menghilangkan hadats tidaklah makruh.”

  1. Air zam-zam bisa menyembuhkan penyakit. Sampai-sampai sebagian pakar fiqih menganjurkan agar berbekal dengan air zam-zam ketika pulang dari tanah suci untuk menyembuhkan orang yang sakit. Dalilnya, dulu ‘Aisyah Ummul Mukminin pernah membawa pulang air zam-zam dalam sebuah botol, lalu beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW. pernah melakukan seperti ini. Diriwayatkan dari yang lainnya, dari Abu Kuraib, terdapat tambahan,

حَمَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَدَاوَى وَالْقِرَبِ وَكَانَ يَصُبُّ عَلَى الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ

“Rasulullah SAW. pernah membawa air zam-zam dalam botol atau tempat air. Ada orang yang tertimpa sakit, kemudian beliau menyembuhkannya dengan air zam-zam.”

  1. Manfaat kesehatan lainnya dari mengekonsumsi air zam-zam antara lain: dapat memaksimalkn proses regenerasi kulit mati, melancarkan predaran darah, menyehatkan tulang dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati berbagai macam penyakit seperti kangker, dan sangat baik bagi ibu hamil dan janinnya.

Wallahu ‘Alam bis Showwab.

BERBOHONG ATAU DUSTA

“Abi bohong”, kata Daud (5 tahun) ketika saya tiba di rumah. ‘Abi’ dalam bahasa Arab artinya ‘bapakku’, mirip dengan panggilan ‘Abah’ yang dalam bahasa Arab bermakna ‘bapaknya’.

Apa penyebabnya? Tidak lain adalah karena pamannya yang menjemputnya pulang sekolah, tidak jadi saya jemput sendiri. Alasan bahwa jadwal kuliah molor sehingga tidak sempat lagi untuk menjemput tidak bisa dicerna oleh pikirannya.

Walaupun kenyataannya tidak berbohong, melainkan ada udzur yang menyebabkan tidak sempat lagi menjemput, tetap saja orang tua perlu hati-hati ketika ‘menjanjikan’ sesuatu kepada anak kecil. Jika kurang hati-hati berbicara, akan ter’framing’ dalam jiwa anak bahwa berbohong adalah hal yang lumrah karena orang tuanya mencontohkan yang demikian. Ini terkait hal yang belum bisa dicerna oleh nalar anak bahwa itu bukan kebohongan.

Adapun jika memang kenyataannya adalah berbohong, maka orang tua wajib menghindarinya, kita anggap sepele atau tidak, berbohong adalah tetap haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ لِصَبِيٍّ: تَعَالَ هَاكَ، ثُمَّ لَمْ يُعْطِهِ فَهِيَ كَذْبَةٌ

“Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu”, lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan. (HR. Ahmad).

Termasuk yang beliau cela adalah berbohong dalam rangka bercanda, beliau bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Kecelakaan bagi orang yang telah bercerita dengan suatu omongan untuk membuat suatu kaum jadi tertawa, lalu ia dusta. Kecelakaan baginya, kecelakaan baginya” (HR. At-Tirmidzi).

Salah satu hikmah dari larangan berbohong mulai dari hal-hal kecil adalah agar tidak dicap oleh Allah sebagai pembohong. Hal ini karena suatu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan baru dalam rangka menutupi kebohongan lama, lambat laun akan hilanglah rasa malu untuk berbohong, kalau sudah tidak malu berbohong, maka layaklah dirinya dicap sebagai pembohong. Rasulullah saw bersabda:

وَمَا يَزَالُ اْلعَبْدُ يَكْذِبُ وَ يَـتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْـتَبَ عِنْدَ اللهِ كَـذَّابـًا

“…dan senantiasa seorang hamba berdusta dan memilih yang dusta sehingga akhirnya dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. (HR.al Bukhari dan Muslim).

Membohongi anak sama artinya dengan mencelakakan anak. Jika anak sudah terbiasa dibohongi, lalu kebohongan itu ‘menular dan merasuk’ ke dalam diri anak, sekalipun orang tua tersebut berhasil mengantarkan anaknya ke jenjang pendidikan tertinggi, menjadikan anaknya dipercaya memimpin manusia, namun ‘penyakit’ bohongnya tidak berhasil ‘diobati’, sama saja orang tua tersebut telah mengumpankan anaknya ke dalam neraka. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidak ada seorang hamba yang diberi amanat oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia mati ketika sedang menipu rakyatnya, kecuali  Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim)[1]

Itu terkait efek di akhirat. Adapun di dunia, kebohongan akan merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Bohong dalam melaporkan keuangan melahirkan korupsi. Bohong dalam melaporkan data pertanian berujung kebingungan: produksi surplus mengapa harus tetap impor?[2], lalu muncul ‘kebohongan’ baru untuk menjelaskan kebohongan lama. Bohongnya panitia dalam ujian sekolah akan menularkan kebohongan ke dalam diri siswa. Bohong kepada dokter, masih sakit sudah bilang sehat, akan menjadikan sakitnya tidak sembuh-sembuh. Bohong kepada guru, belum faham sudah bilang faham, akan menjadikannya mengecap pahitnya kebodohan. Bohongnya “ulama” kepada umat akan menyebabkan umat tertipu hingga masuk ‘surga bohongan’. Jika hal-hal ini dibiarkan rusaklah negara.

Allâhu A’lam.

sumber :mtaufiknt.wordpress.com

Jabal Uhud

JABAL UHUD

Tujuan Ziarah

TUJUAN BERKUNJUNG KE TEMPAT BERSEJARAH

Tujuan Ziarah merupakan amalan yang bertujuan melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah,
untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam perjuangan dan perkembangan agama Islam,
agar dapat mempertebal iman.

Ada kenikmatan tersendiri apabila kita dapat menapak tilas kota-kota maupun jejak-jejak sejarah Islam,
dengan sejarah kita dapat merasakan bagaimana manis pahitnya perjuangan Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama Islam ke seantero dunia.
Atas izin Allah SWT melalui perantara Rasulnya Muhammad Saw, manisnya Iman serta Islam itu sampai di dada kita sekarang ini.

Semoga Allah melimpahkan rezkinya pada kita hinga Kita dapat berkunjung ketempat-tempat bersejarah tersebut.
Aamiin Yaa Rabbal Alamin.